Menjadikan Kesenangan maupun Kesusahan Sebagai Kebaikan

Hidup kita baru akan senantiasa bahagia jika mampu menjadikan kesenangan maupun kesusahan sebagai kebaikan. Karena kalau kita hanya menginginkan kesenangan saja agar bisa bahagia maka pasti akan datang masanya kesusahan. Jadi kita memerlukan sesuatu agar bisa tetap bahagia baik itu dalam kondisi susah maupun senang. Adapun pintu untuk masuk ke ruangan penuh kebahagiaan itu berupa ketaqwaan dengan kunci rahasianya bernama iman. Ya.. dengan iman dan taqwa maka kita baru akan bisa merasa bahagia baik itu dalam kondisi suka maupun duka, karena saat suka kita bisa bersyukur, dan saat duka kita juga bisa bersabar. Dan kedua kondisi itu merupakan kebaikan.

 

Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman

Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman

Hadapi kesenangan dengan bersyukur

Yang namanya kesenangan itu belum tentu bisa membuat kita bahagia apabila tidak mampu bersyukur. Yaitu merasa cukup dengan apa yang sudah ada serta menggunakanya sebagai mana mestinya. Coba lihat berapa banyak orang yang berlimpah harta, bermandikan tahta namun tidak bahagia sekaligus hidupnya tidak mulia. Mereka tidak sempat mencicipi kebahagiaan karena selalu merasa kurang dengan apa yang sudah ada serta terjebak oleh keinginan serta perilaku buruk yang tidak mampu dikendalikanya. Kondisinya akan jauh berbeda jika kesenangan itu berada ditangan orang yang bertaqwa, ia akan bisa menggunakanya untuk hal-hal berguna ditempat yang pas sehingga kebahagiaan akan mengucur dari segala sisinya. Kesenanganya akan semakin bertambah karena dengan bersyukur maka nikmat akan meningkat.

Hadapi kesusahan dengan bersabar

Tidak selamannya kesusahan itu merupakan petaka, karena bagi orang yang beriman dan bertaqwa justru masa duka itu akan membuatnya bahagia karena ia mampu bersabar dalam menghadapinya.

  • Ia merasa bahagia karena menganggap kesusahan itu sebagai cara Allah untuk menggugurkan dosa-dosa, ia menjadikan kesusahan itu sebagai koreksi bagi diri agar bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
  • Ia berpandangan bahwa kesusahan itu merupakan bentuk dari kasih sayang Allah dalam mengingatkanya agar senantiasa berada dijalan lurus yang bisa mengantarkanya ke surga.
  • Ia sabar dengan kesusahan dunia yang baginya hanya sebentar saja yaitu cuma sekian puluh tahun selama umur hidupnya sedangkan kebahagiaan di akherat itu waktunya berkepanjangan. Lebih baik susah sebentar di dunia yang penting di akherat bahagia selamanya.
  • Ia menjadikan kesusahan itu sebagai penyemangat diri agar lebih banyak beribadah.
  • Ia tidak terpengaruh oleh kesusahan karena sudah terbiasa berlapar serta menahan diri dengan memperbanyak puasa.

 

Ada sebuah hadits yang berkaitan dengan hal ini, bunyinya seperti ini.

“Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.” (HR. Muslim)

 

Jadi dalam hidup ini kita perlu mempersiapkan serta membangun diri agar bisa senantiasa dalam kondisi bahagia baik itu saat suka maupun duka, agar bisa tetap tenang dalam kondisi apapun. Untuk itu kita perlu berjuang meningkatkan iman serta berusaha lebih keras lagi dalam menjalankan ketaqwaan karena itulah sebenar-benarnya kebahagiaan.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.