Kukayuh sepeda untuk perjuangan di usia muda

Malam itu hujan deras disertai suara petir mengglegar dan kilat menyambar-nyambar.

Tak terasa sudah hampir 30km sepeda itu kukayuh dengan tenaga yang mulai aduh.

Sempat terpikir untuk berteduh tapi teringat sisa perjalan yang lebih dari separuh.

Sebenarnya usiaku masih terlalu muda untuk merasakan penderitaan itu.

bukankah seharusnya lebih enak asik bermain dengan kawan sebaya yang penuh dengan canda tawa di usia lima belas tahunan.

Tapi apalah daya, aku harus menempuh sebuah perjuangan demi masa depan yang penuh kebahagian.

Aku harus menuntut ilmu sebagai bekal masa depan yang kuharapkan bisa berada dalam kegemilangan.

Tersadar bahwa tidak ada seorangpun yang bisa kujadikan sandaran, maka kukuatkan tekad sekaligus semangat untuk cita-cita yang kuyakini akan kudapat.

Sambil mengayuh sepeda kutengadahkan wajahku kelangit, air hujan mengguyur mukaku dengan kerasnya.

Mulutku bersuara “subhanallah” ya Allah biarlah aku yang merasakan susahnya perjuangan ini asalkan kelak anak istriku bisa hidup enak.

Biarlah kukorbankan masa mudaku dengan sakitnya penderitaan dalam melakukan perjuangan agar kelak anak istriku tidak perlu merasakan penderitaan.

Tak terasa perjalanan sudah sekitar 60km kulalui sehingga sampailah aku disebuah gedung tua yang kutinggali sendirian.

Aku menumpang digedung itu karena nasibku tidaklah sebaik kawan kawan yang bisa tinggal di kost-kostan dekat dengan sekolahan.

Berbekal uang 20 ribu rupiah jatah seminggu, harus cukup untuk menyambung kehidupan.

Yang 10 ribu kubelikan beras untuk seminggu, yang 6 ribu untuk beli ikan teri atau kerupuk sebagai teman makan nasi agar lidah dan perut tidak cemberut. Sisa 4 ribu untuk uang saku sekolah barangkali ada yang harus kubeli.

Jika ada kebutuhan diluar dugaan maka aku terpaksa beberapa hari tidak makan, ya..  Aku harua tahan ketika melihat orang-orang menikmati makanan disaat perutku keroncongan.

Aku harus bisa melakukanya karena hidup sendirian di perkotaan dengan keterbatasan bukanlah sesuatu yang mudah.

Tapi alhamdulillah, 4 tahun masa itu sudah kulewati dengan hasil berupa ilmu yang dibuktikan dengan selembar ijazah yang kuyakini akan bisa membuat masa depanku berubah.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.