Buat apa menanam pohon yang tidak bisa berbuah dan tidak bisa di makan?

Buat apa menanam pohon yang tidak bisa berbuah dan tidak bisa di makan? begitu protesnya melihat sebuah pohon yang baru saja kutanam, aku hanya menjawabnya dengan senyuman. pertanyaan yang sangat sederhana itu sejatinya menggambarkan bagaimana seseorang mengenal diri, dan siapa yang mengenal diri maka akan mengenal Tuhanya.

 

menanam pohon

menanam pohon

Sudut pandang orang menganggap diri adalah raga

Bagi orang yang menganggap dirinya adalah raga/tubuh, maka ia akan berusaha memuaskan raganya dengan makanan atau hal-hal yang memberikan efek langsung pada kepuasan raga, termasuk senang memakan pada buah dari pepohonan, golongan ini sangat berkepentingan untuk menyukai pohon yang buahnya bisa dimakan saja agar tubuhnya terpuaskan. Ketika menanam pohon maka ia berpikir suatu saat dialah yang harus memanen buahnya, atau setidaknya keluarga atau saudaranya yang boleh memanen. tempat menanamnya juga di lahan yang sekiranya bisa dikuasai.

Sudut pandang orang yang mengganggap diri adalah jiwa

level selanjutnya yaitu orang yang menganggap bahwa dirinya adalah jiwa yang ada didalam raga, ia membutuhkan makanan untuk jiwa yaitu hal-hal yang bisa membuatnya nyaman dan tenang. golongan ini memandang pohon jauh lebih tinggi, misalnya pohon bisa untuk berteduh, bisa menyejukan halaman, bisa menghias taman, dan yang lainya. dan ia juga tetap senang pada buah-buahan karena raganya juga butuh makan. tempat menanam pohon bisa di tempat umum seperti tepi sungai, taman bersama, dan sejenisnya.

Sudut pandang orang yang menganggap diri adalah hamba Allah

Yang lebih tinggi lagi yaitu orang yang menganggap dirinya sebagai hamba Allah, ia memandang bahwa dirinya adalah hamba Allah yang diberikan kendaraan untuk hidup di dunia berupa jiwa, raga, hati, dan yang lainya. ketika menanam pohon ia tidak peduli apakah kelak yang akan memanfaatkanya itu dirinya, siapapun, atau makhluk apapun. baginya menanam pohon itu merupakan salah satu bentuk ibadah yang mendapatkan pahala, jika nanti buahnya ada yang memanfaatkan bahkan dengan cara dicuri sekalipun merupakan sedekah. ia sadar bahwa umur hidupnya didunia tidak akan panjang, bisa jadi ia sudah mati duluan sebelum pohon yang ditanam itu berbuah. Tempatnya menanam pohon juga tidak dipedulikan asalkan bukan sesuatu tempat yang haram. ketika ia memakan buah atau memanfaatkan sesuatu dari pohon maka diniatkan sebagai ibadah untuk merawat jiwa raga agar bisa digunakan sebagai kendaraan hidup di dunia.

 

Jadi dalam hal cara pandang menanam pohon dan memanen buah kita bisa tahu bagaimana tingkatan spiritual diri maupun orang lain, tubuh boleh dewasa tapi jiwa belum tentu ikutan tua dan pengenalan pada diri juga belum tentu mengerti, semoga kita dimudahkan oleh Allah sebagai golongan orang yang mengenal diri. Dalam menanam pohon utamakan yang paling banyak manfaatnya untuk diri maupun makhluk laik, yang paling banyak buahnya, yang paling rindang sehingga menyejukan halaman, yang paling indah, dan yang paling bermanfaat.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.